Ketenaga kerjaan

May day, hari untuk Pekerja (buruh)

Hari ini 1 Mei, atau yang lebih dikenal dengan May Day, merupakan hari dimana pekerja seluruh dunia mengenang satu momen tahun 1886, ketika demontrasi menuntut perbaikan kondisi kerja di Amerika Serikat disambut dengan berondongan senjata api dan ratusan orang tewas. Biarkan kaum pekerja memperingati peristiwa itu dengan menggunakan hak mereka untuk menyampaikan aspirasi di jalan-jalan. Tetapi kita disini akan berbicara sisi lain kaum muda kita.

Saya sengaja mengganti kata buruh dengan pekerja, agar gambaran iring-iringan manusia berseragam ungu pergi berjalan ke pabrik-pabrik untuk memintal benang atau menjahit sepatu, bisa berganti menjadi kita yang mengetik di komputer, menulis email, menenteng-nenteng laptop, bercakap-cakap dengan telpon seluler, pakai dasi kesana kemari, pulang pergi menyetir mobil atau naik kereta ekspress, termaktup juga di dalamnya.

Karl Marx berujar, Bekerja merupakan sebuah cara dimana manusia menyatakan eksistensi dan mengidentifikasikan siapa dirinya. Masyarakat pada umumnya menekankan status pekerjaan dalam pengukuran nilai dan konsep diri individu yang terintegrasi di dalam lingkungan sosial masyarakat. Oleh karena itu dipecat menjadi hantu yang menakutkan bagi kaum pekerja, terutama bagi yang tidak memiliki self competence untuk tetap bertahan hidup mandiri.

Bekerja di sebuah perusahaan besar, dimana kita bisa mengidentifikasikan siapa diri kita di dalamnya, bukan hanya impian tetapi juga ukuran keberhasilan lulusan belajar di sekolah. Sebuah kebanggaan tersendiri dalam diri kita melekat sebagai orang Telkom, orang Pertamina, orang PLN, Orang BNI, atau institusi besar manapun tempat kita bekerja.

Keberhasilan belajar di sekolah dan perguruan tinggi, tidak diukur dari tumpukan huruf-huruf, angka-angka dan kata-kata, yang mengendap dalam kepala kita tetapi seberapa berhasil dia mendapatkan pekerjaan setelah kelulusan. Tidak tepat memang, tetapi begitulah anggapan sebagian besar kita.

Perguruan Tinggi dan sekolah-sekolah telah berlomba-lomba melahirkan putra-putra terbaiknya, untuk masuk dalam dunia kerja. Tetapi jaman telah berubah, bergelar sarjana tidak lagi seperti jaman orang tua mereka yang gampang mendapatkan pekerjaan. Index prestasi di atas tiga tidak lagi lantas diperebutkan dan dipersilahkan memilih meja kursi di kantor, tetapi harus bersaing dengan ribuan yang lain dengan index yang sama atau bahkan di bawahnya. Terjadilah terjadi over supply tenaga kerja di negeri kita ini.

Kita sudah melakukan 2 hal, untuk mengurangi hal itu, meng-ekspor pembantu dan mengimpor juragan. Dan itu ternyata belum cukup untuk mengurangi laju pertumbuhan tenaga kerja. Sehingga mereka mau bekerja apa saja, walaupun tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari asal ada aktifitas yang nampak dan mempunyai bergelar pengangguran.
Di lain pihak, jaman modern telah merubah kapitalisme menjadi sebuah agama, yang sadar atau tidak sadar kita menganutnya. Pencapaian pendapatan merupakan ukuran keberhasilan tertinggi dalam hidup seseorang atau perusahaan. Persaingan yang sangat ketat untuk menuju puncak memaksa perusahaan besar membuat langkah-langkah efisiensi disegala hal, salah satunya masalah pekerja. Di sana-sini terdengar pemangkasan jumlah pekerja untuk mengurangi beban pengeluaran.  Sebagai gantinya, perusahaan lebih memilih mengalihkan satu unit proses bisnisnya kepihak lain (outsourcing) atau dengan menggunakan tenaga kontrak, untuk pekerjaan tertentu.

Banyak hal keuntungannya yang diperoleh, selain tidak perlu lagi mengeluarkan anggaran yang besar untuk SDM, juga mendapatkan tenaga muda yang giat bekerja, lebih patuh dan tidak rewel.Memang tidak mudah mengelola perusahaan dengan jumlah pegawai yang menggelembung, karena cenderung tidak fleksibel dan tidak lincah untuk berubah. Belum lagi tuntutan-tuntutan yang beraneka macam. Dengan menggunakan tenaga kerja kontrak atau outsoucing, tidak ada lagi pertanyaan semacam, “bulan ini kita akan dapat apa?”,”tanggal berapa insentif keluar?”, “kapan Jasprod dibayar ?”  pertanyaan yang hilir mudik selalu terdengar dalam pembicaraan di pantry.

Saya mengakui bahwa Dasar kompetensi para tenaga kontrak sekarang memang bagus, tetapi kesadaran akan pentingnya menghimpun diri dan mengorganisir untuk sebuah kesepahaman bersama, sangat kurang dan cenderung apatis, dari banyak kaum muda kita. Sehingga nasib para pekerja kontrak tidak juga beranjak dari sebutan pekerja kelas dua pada perusahaan. Tenaga kerja kontrak memang bisa jadi tidak akan diangkat menjadi pegawai tetap tanpa persyaratan yang ditetapkan, tetapi tidak mesti tenaga kontrak harus mendapatkan penghasilan jauh dari pegawai tetap atau jauh dari kata cukup. Karena yang dibutuhkan dari tenaga kontrak sekarang adalah kompetensinya untuk menangani sebuah proses bisnis dengan keahlian tertentu. Maka mereka berhak mendapatkan penghasilan yang layak sesuai dengan keahlian mereka.

Kita harus menanamkan sifat kesadaran akan artinya pentingnya hubungan saling menguntungkan antara pekerja dan pemberi kerja. Dan bukan atas belas kasihan. Sebenarnya pekerja kontrak dapat saja menanyakan hak-hak mereka atas uang kesehatan, jamsostek, askes atau fasilitas-fasilitas lain yang layak atas resiko mereka dalam menjalankan aktifitas kerja sehari-hari. Atau bisa juga mempertanyakan status mereka dalam hubungannya dengan pemberi kerja, dengan sedikit lebih kritis. Tetapi sebuah kata ” kalau tidak suka bekerja disini silahkan saja cari di tempat yang lain saja, masih banyak kok yang mau menunggu di luar !!” sudah cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pekerja kontrak.

Bahwa tiap perusahaan itu unik dan tidak akan dipahami dengan betul oleh orang yang tidak berada di dalamnya, maka salahlah kalau organisasi karyawan diorganisir oleh bukan orang yang berada di dalam lingkup perusahaan itu sendiri tetapi oleh anasir-anasir dari luar. Posisi kaum pekerja yang rawan ini, akan mudah digerakan oleh orang-orang non pekerja yang mengatasnamanakan pekerja dalam kegiatannya. Mengutip dari para aktivis dari serikat pekerja di Amerika Latin, kemerdekaaan kaum pekerja tidak akan terjadi kecuali oleh kaum pekerja itu sendiri.

Terakhir …. Besok 2 Mei adalah hari pendidikan nasional, apakah kita masih menggukur keberhasilan pendidikan anak-anak muda kita dari mendapatkan pekerjaan ? bersiaplah untuk kecewa.

Untuk anak-anak anda, anda tentu sudah mengeluarkan banyak untuk banyak hal, dari kursus-kursus menambah kompetensi sampai dengan persiapan uang yang mungkin untuk sogokan, agar mampu masuk dalam dunia kerja. Tetapi apa yang anda persiapkan jika anak anda tidak mampu mendapatkan pekerjaan ?. (sumber : mumu haydar, milist filsafat@yahoogroups.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s